SHALAFUSH SHALIH & AHLUSH SUNNAH

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku. Tidak akan bercerai-berai keduanya hingga keduanya mengantarkanku ke Al-Haudh (telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Surga)”

[Syaikh Al-Abani menshahihkan hadits ini di Shahihul Jami’]

Bersandar kepada Al-Qur’an dan Al Hadits merupakan kewajiban seorang muslim untuk mencegahnya dari kesesatan dan penyimpangan. Namun kini kita sering melihat banyaknya perpecahan dalam Islam, yang sebenarnya telah terjadi 1500 tahun dari masa nabi terakhir. Umat Islam terbagi menjadi bermacam-macam paham, madzhab, kelompok, dan organisasi. Semuanya mengaku berdasarkan Al-Qur’an dan Al Hadits, tetapi kenyataannya tiap kelompok mempunyai karakter pemahaman yang berbeda-beda, bahkan bisa jadi antara satu kelompok dengan yang lain berlawanan 180 derajat. Pemahaman yang tidak benar kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat rawan terjadi penyimpangan-penyimpangan. Inilah yang mengakibatkan tumbuhnya aliran-aliran sesat yang bermula karena pemahaman yang keliru akan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Lalu, manakah pemahaman yang benar?

Alloh Subhanahuwata’alla berfirman:

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka, dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” [At-Taubah: 100]

Ya, pemahaman yang benar adalah pemahaman RosulullohShallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabat beliau. Kewajiban mengikuti beliau Rosululloh tidak dapat ditawar atau di bantah. Demikian pula dengan mengikuti para sahabat.

Rosululloh bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada zamanku (yaitu para sahabat Nabi), kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.” [HR. Bukhari]

Secara akal, masuk akal juga jika kita seharusnya mengikuti pemahaman para sahabat. Karena mereka orang yang pertama kali mendengar Islam dari sumbernya, Islam yang masih murni, tanpa dicampuri penyimpangan apapun. Jika mereka salah dalam amal atau keyakinan, maka Rosululloh sendirilah yang menegur dan mengoreksi mereka.

Secara bahasa, salaf adalah pendahulu. Jika secara istilah, maknanya adalah tiga gemerasi awal Islam, yaitu sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Karena tidak semua orang pada zaman itu mengikuti Rosululloh, mengingat sudah ada penyimpangan-penyimpangan pada zaman tersebut, penyebutan salaf dikaitkan dengan kata ash-shalih, sehingga menjadi salafushshalih.

Istilah salafushshalih pada hakikatnya semakna dengan ahlus sunnah wal jama’ah. Rajab Al-Hanbaly berkata: “As-sunnah ialah jalan yang ditempuh mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan.”

Pengertian jama’ah secara syari’at sendiri ada dua kesimpulan. Pertama disebut Al-Jama’ah bila sepakat dalam hal memilih dan menaati seorang pemimpin yang sesuai dengan ketentuan syari’at. Kedua, Al-Jama’ah adalah jalan yang ditempuh oleh ahlus sunnah yang meninggalkan segala macam bid’ah.

Kesimpulannya, ahlus sunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau ridwanullah ‘alaihim ajma’in serta menjahui perkara-perkara bid’ah dalam agama.

Tapi celakanya, sebagian orang-orang yang menjadi budak hawa nafsu, menganggap Ahlus Sunnah Wal Jama’ah membuat perpecahan. Padahal, justru orang-orang yang suka menuruti hawa nafsu itulah yang menimbulkan perpecahan, yang menciptakan bid’ah-bid’ah yang identik dengan mereka. Semua kesalahan dan aib yang dilontarkan oleh para budak hawa nafsu tersebut kepada Ahli Sunnah, justru lebih banyak mereka lakukan sendiri. Umat muslim yang justru memelihara sunnah tanpa menambahi dan menguranginya, dihina, dihujat, diberi gelar-gelar yang buruk, dan dimusuhi.

Diriwayatkan oleh Imam Ash Shabuni dalam kitab Aqidat Al Salaf Wa Ash-bab Al Hadits dari Abu Hatim bin Muhammad bin Idris Al Handhali Al Razi, ia mengatakan: “Ciri-ciri orang ahli bid’ah ialah mereka memfitnah Ahlus Sunnah. Ciri orang-orang kafir zindiq ialah menyebut Ahlus Sunnah dengan jembel, dengan tujuan menyerang hadits dan atsar. Ciri orang-orang Qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah dengan pemaksa, karena Ahlus Sunnah menetapkan takdir yang baik maupun yang buruk berasal dari Allah Ta’ala dan mereka juga mengatakan bahwa ilmu, kekuasaan, dan kehendak Alloh Ta’ala bersifat mutlak. Sementara, orang-orang Qadariyah menetapkan takdir sebagai suatu paksaan.

Orang-orang Murji’ah menyebut Ahlus Sunnah para pengacau, karena dianggap tidak konsisten dalam masalah iman bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Ciri orang aliran Jahimiyah, menyebut Ahlus Sunnah tukang menyerupakan, karena menetapkan nama dan sifat-sifat Alloh apa adanya seperti yang diterangkan dalam nash berarti menyerupakan, padahal Ahlus Sunnah juga yakin tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Alloh. Ciri orang-orang Mu’tazilah dan ahli kalam menyebut Ahlus Sunnah pembonceng, atau orang rendahan, karena mengambil nash-nash yang shahih saja. Dan ciri orang Rafidhoh (Syi’ah) ialah menyebut Ahlus Sunnah sebagai gila kedudukan dan nashawib, karena tidak mau membela ahlul bait (Ali bin Abi Tholib dan keturunannya). Padahal, sikap Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mencintai Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu dan orang-orang yang sangat dikasihinya. Justru sikap orang-orang Syi’ah yang terlalu fanatik secara berlebih-lebihan terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dan memusuhi hampir semua sahabat Nabi termasuk Abu Bakr, Umar bin Kaththab, dan Utsman bin Affan, serta menganggap orang yang tidak sejalan dengan mereka sebagai nawashib.”

Namun walau banyak cercaan dan hujatan, pembimbing manusia kepada jalan kebenaran melalui jalan Rosululloh dan para sahabat tidak akan pernah sirna. Karena Nabi bersabda:

Ada segolongan dari umatku yang selalu tampil membela kebenaran. Mereka tidak akan terkena mudharat orang-orang yang tidak mendukung mereka sampai datang urusan Alloh dan mereka tetap seperti itu.” [HR. Muslim]

Dan, dalam firman Alloh:

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” [QS. Ash-Shaff: 8]

Selamat dunia akhirat adalah dambaan setiap muslim. Selamat dalam hal amal adalah dengan ikhlas dan ittiba’. Termasuk unsur selamat dunia akhirat adalah berislam sebagaimana islamnya Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau.

Allohu ta’ala a’lam

SHALAFUS SHALEH

 

[team_kahfi: berbagai sumber]

Tentang anggra ayyaadon

I am just an ordinary girl with many weaknesses Tampilkan semua tulisan oleh anggra ayyaadon

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.