Sebagian orang yang mengaku beragama Islam mendapatkan su’ul khatimah. Na’udzubillah!! Su’ul khatimah ini nampak pada sebagian orang yang sedang sekarat. Shi
ddiq Hassan Khan menceritakan tentang su’ul khatimah, ”Su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin.” [Yaqzhah Uli aL-I’tibar, hal 211]. Kemudian beliau menyebutkan sebab-sebab yang dimaksud,:
-
Kerusakan dalam Aqidah, walaupun disertai zuhud dan keshalehan yang sempurna. Kalau ia memiliki kerusakan dalam akidahnya dan ia meyakini serta tidak menyangka bahwa itu salah, terkadang kekliruan akidahnya itu tersingkap pada saat sakaratul maut. Setelah tersingkap, maka kerusakan sebagian akidahnya menyebabkan terhapusnya akidah lainnya. Dengan demikian, bila dia wafat dalam keadaan seperti ini sebelum dia menyadari dan kembali ke iman yang benar, berarti dia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tanpa iman.
Selain itu, dia termasuk orang yang disebut oleh Alloh dalam ayat: ”Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” [az-Zumar: 47] , dan ayat, ”Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [aL-Kahfi :103 – 104]
Jadi, setiap orang yang berakidah secara keliru baik karena pendapatnya sendiri atau mengambil dari orang lain, maka dia berada dalam bahaya besar, dan zuhud serta keshalehannya akan sia-sia alias tidak berguna .Yang berguna adalah akidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul, karena akidah agama tidak dianggap benar kecuali bersumber dari keduanya.
2. Banyak melakukan maksiat. Orang yang sering melakukan maksiat, maka maksiat itu akan menumpuk di dalam hatinya, dan semua yang dikumpulkan manusia sepanjang umurnya, maka memori itu akan terulang saat dia mati. Jika seseorang cenderung pada ketaatan dan hal-hal yang baik, maka yang paling banyak hadir adalah memori ketaatan. Sebaliknya, kalau kecenderungannya pada maksiat lebih besar, maka yang paling banyak hadir saat dia sekarat adalah memori maksiat. Bahkan bisa jadi pada saat sakaratul maut menjelang dan dia belum betobat, syahwat dan maksiat menguasainya sehingga hatinya terikat padanya dan akhirnya hal itu menjadi penyebab kesengsaraan diakhir hayat. Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maksiat adalah kekufuran.”
Adapun orang yang tidak melakukan dosa atau dia berdosa tetapi kemudian dia bertobat maka dia jauh dari bahaya ini. Sementara otag yang banyak dosanya melebihi ketaatannya dan belum betobat bahkan dia terus menerus melakukannya, maka ini sangat berbahaya baginya, sebab dominasi maksiat ini akan terpatri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menjadi penyebab su’ul khatimah (akhir yang buruk)
Perbandingannya sebagai berikut. Tak diragukan bahwa manusia dalam mimpinya melihat hal-hal yang berhubungan dengan dirinya sepanjang umurnya. Orang yang menghabiskan umurnya dengan keilmuan akan bermimpi mengenai halhal yang berkaitan dengan ilmu dan ulama. Orang yang menghabiskan umurnya di dalam duni menjahit akan bermimpi tentang hal-hal yang berkaitan denagn jahitan dan penjahit. Sebab yang ada dalam tidur adalah apa yang berhubungan dengan hatinya sepanjang hidupnya. Mati, walaupun lebih dari tidur, namun sakaratul maut dan keadaan tidak sadarnya mirip dengan tidur. Lama bergelimang maksiat akan membuat hati cenderung kepada mengingat maksiat, dan jika rohnya terlepas dari jasadnya saat itu, maka buruklah akibatnya.
Adz-Dzahabi, dalam aL-Kaba’ir, mengutip Mujahid:
Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa dia gauli. Seorang laki-laki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan padanya, ”ucapkanlaj Laa ilaha illa Alloh.” Dia menjawab, ”skak!!” kemudian mati. Jadi yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti nkalimat tauhid, dia mengatakan skak. Ini seperti orang yang kawan-kawannya adalah para pemabuk. Saat sekarat , seseorang akan datang untuk mengajarkannya mengucapkan syahadat, tetapi dia malah berkata, ”Mari minum dan tuangkan untukku!” Kemudian dia mati. La hawla wa la quwata illa billah. [Adz-Dzahabi, aL-Kaba’ir, hal.91]
3. Tidak IstiQomah. [Yaqzhah Uli al-I’tibar, hal.212]. sungguh seorang yang istiqomah pada awalnya lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa memnjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat, serta yang paling giat beribadah. Tapi tatkala dia diperintahkan sujud kepada Adam, dia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga termasuk golongan kafir. Juga seperti Bal’am ibn Ba’ur yang telah sampai kepadanya ayat-ayat Alloh lalu Alloh menurunkannya ke dunia. Dia menururti hawa nafsunya dan termasuk orang-orang yang sesat. Juga seperti Barsisha, seorang abdi setan berkata kepadanya, ”kafirlah”, dan tatkala dia kafir ,setan berkata, ”aku bebas darimu, sungguh aku takut kepada Alloh, Tuhan Penguasa Alam.”. setan memperdayai dirinya agar kufur dan tatkala dia kafir, setan lepas tangan khawatir ikut diadzab bersamanya padahal itu sia-sia. Alloh berfirman, ”Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” [aL-Hasyr :17]

4. Iman yang Lemah. Iman yang lemah dapat melemahkan cinta kepada Alloh dan menguatkan cinta dunia kedalam hatinya, bahkan lemahnya iman itu dapat menguasai dan mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk Alloh kecuali sedikit bisikan jiwa. Sehingga pengaruhnya tidak nampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya dia terperosok dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat ,sehingga noda hitam menumpuk di hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah tersebut. Dan ketika sakaratul maut datang ,cinta Alloh semakin melemah manakala dia melihat dia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat sehingga dia tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Alloh murka dan tidak mencintainya. Akhirnya bila dia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka dia mendapatkan su’ul kathimah dan sengsara selamanya.
Cinta dunia adalah penyakit yang umunya menimpa kebanyakan manusia. Jadi, pada saat mati, hatinya didominasi oleh urursan-urursan dunia, maka hal itu mengisi seluruh ruangan dalam hatinya. Hikayat bahwa Sulaiman ibn Abdul Malik, saat memasuki kota Madinah untuk berziarah, berkata, ”Apakah di Madinah masih ada tokoh yang pernah bertemu sahabat?” Mereka menjawab, ”ya, masih. Namanyta Abu Hazim.” lalu dia minta diantar ke tempat Abu Hazim. Sesampainya didepan Abu Hazim, Sulaiman berkata, ”hai Abu Hazim, kenapa kami tak suka mati?” Abu Hazim menjawab, ”Kalian memakmurkan dunia dan menghancurkan akhirat. Maka kalian tak sudi keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.” Sulaiman berkata, ”Benar engkau! Lalu bagaimana poisisi kami disisi Alloh? Abu hazim menjawab, ”cocokkan amalmu dengan Kitabullah.” Sulaiman menjawab, ”dimana hal itu kutemukan?” jawab Abu Hazim, ”di dalam Firman Alloh, ”Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” [aL-Infithaar :13-14]
Sulaiman bertanya lagi, ”di mana Rahmat Alloh?, Abu hazim menjawab, ”rahmat Alloh dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” Sulaiman berkata, ”Lalu bagaimana pengadilan di depan Alloh?”, Abu Hazim menjawab, orang yang berbuat baik adalah orang yang telah lama hilang kembali ke keluarganya , sedangkan orang yang berbuat jahat seperti budak yang melarikan diri lalu dihadapkan kepada majikannya.” lalu Sulaiman menangis sampai suaranya meninggi dan tangisannya meyayat hati. Kemudian dia berkata, ”berilah aku wasiat!” Abu Hazim menjawab, ”awas! Jangan sampai Alloh melihatmu pada saat Dia melarangmu atau Dia luput darimu saat Dia memerintahkanmu.”
Shiddiq Hassan Khan menukil pandangan al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa su’ul khatimah ada dua tingkatan. Dan salah satunya lebih besar dari yang lain. Tingkatan yang sangat besar adalah bila yang mendominasi hati pada saat sakaratul maut adalah syak (keraguan) atau pengingkaran ,sehingga apabila seseorang wafat dalam kondisi seperti itu ,maka selamanya dia akan terhijab dari Alloh. Hal ini akan membuatnya jauh dari rahmat Alloh dan memperoleh azdab yang abadi. Kedua, yang setingkat dibawahnya, yaitu bila yang mendominasi hatinya adalah cinta pada dunia sehingga hal itu memenuhi ruangan dalam hatinya dan tidak menyisakan tempat untuk yang lain. Bila rohnya melayang dalam kondisi seperti itu, maka itu sangat membahayakan, sebab seseorang mati tergantung atas kebiasaannya selama dia hidup. Pada saat itu kerugian yang dideritanya sangat besar. Kecuali memang jika akar iman dan cinta kepada Alloh, telah tertanam di dalam hati cukup lama dan diperkuat dengan amal sholeh , maka hal itu dapat menghapus kondisi seperti diatas selanjutanya, bila kualitas imannya mencapai kadar yang dapat mengeluarkannya dari neraka, maka dia akan keluar dari neraka. Bila kualitas imannya lebih rendah, maka dia masuk neraka dalam waktu lama. Bila iman itu hanya sebesar biji sawi, maka dia pasti akan keluar dari neraka walaupun setelah beribu-ribu tahun. Selanjutanya setiap yang meyakini Alloh berikut sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan keliru, baik karena taklid atau dengan pikiran sendiri, maka dia berada dalam bahaya, dan zuhud serta kedhalehannya sekalipun tidak dapat menolak bahaya ini. Bahkan dia tidak akan selamat kecuali dengan akidah yang benar sesuai al_qur’an dan as-sunnah. [Yaqzhah Uli al-I’tibar, hal.216]
Maraji’: Ensiklopedia Kiamat, Dari Sakaratul Maut Hingga Surga-Neraka (terj. al-Yaum al-Akhir: al-Qiyamah ash-Shugra wa ’Alamat al-Qiyamah al-Kubra) oleh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar.













Agustus 7th, 2009 at 2:49 am
Assalamualaikum
Ijin co-paste ya kak
Syukron
Agustus 12th, 2009 at 1:20 am
tafadhdholy dinda….
Februari 19th, 2011 at 7:06 am
ana izin copy ya akh..
Januari 7th, 2012 at 5:32 am
tafadhdhol ya akhi …
(afwan …ana ukhti …hee)