“Qorun adalah Nabi yang menemukan harta karun” kata Guru TPQ itu

Catatan kecil ini di mulai saat Bulan Ramadhan(1432 H) kemarin. Seperti tahun tahun sebelumnya, bulan Ramadhan biasanya di isi dengan kegiatan kegiatan islami. Salah satunya yang berkaitan dengan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) adalah lomba antar TPQ

mengajar Di masjid dekat rumah nenek ada sebuah masjid bernama Masjid Al-Muttaqien. Kebetulan masjid itu satu komplek dengan rumah nenek saya dan dua rumah paman- paman saya.  TPQ di masjid itu sejak 3 tahun terakhir tidak pernah ada lagi, kecuali hanya pas Ramadhan. Alasannya karena tidak ada pengajarnya. Saya sih tidak terlalu mempersoalkan karena saya tidak tinggal disitu. Tapi selama dua kali Ramadhan saya dan adik saya (Isti) selalu di minta bantuan untuk mengajar. Tapi Isti yang sering aktif sedangkan saya jarang TPQ karena lebih sering membantu mama memasak untuk buka puasa.

Seperti tahun tahun sebelumnya ada undangan untuk mengikuti lomba TPQ se-desa Pr*n*n. Semua masjid se-desa diundang dan dipaksa mau gak mau harus ikut. Saya tidak hapal ada berapa masjid di desa Pr*n*n itu. Tapi sekitar ada lima atau enam masjid.

Di TPQ Al-Muttaqien, Isti dan beberapa pemudi yang mengajar  (kalo pas Ramadhan ramai santri dan pemuda-pemudinya. Tapi kalo Ramadhan selesai ya bubarlah sudah)

Singkat cerita, lomba berakhir dengan beberapa kemenangan dari TPQ kami. Lomba Cerdas Cermat, Lomba Shalat Berjama’ah, Lomba Adzan, dan beberapa lainnya. Tapi tetap saja itu menimbulkan kekecewaan besar di hati saya dan Isti. Karena yang kami permasalahkan bukan terletak pada kemenangannya tetapi pada ilmunya.

Jujur saja, kami berdua tidak yakin dengan ilmu ilmu agama yang di bawa oleh panitia lomba. Goresan goresan hitam menambah daftar ketidak ikhlasan kami jika para santri mengikuti lomba itu.

Suatu hari, setelah Ramadhan berakhir, dua orang santri yang memenangkan Lomba Cerdas Cermat bercerita pada saya:

“mbak, Nabi yang kaya karena menemukan harta karun itu Qorun ya?”

“Hah??? Qorun = Nabi ?”  saya agak bingung, karena setau saya Qorun itu adalah seseorang yang diadzab oleh Allah karena kesombongannya. “Qorun itu bukan Nabi”

“Tapi kok kemaren pas Lomba Cerdas Cermat, ada pertanyaan Nabi yang terkena kaya karena menemukan harta karun adalah Qorun, gitu ya?” ujar anak yang bernama Yasi kepada temannya Nia.

“Iya tuh mbak. Waktu itu kami menjawab Nabi Sulaiman, Nabi yang kaya, tapi salah tuh mbak. Kelompok lain pada gak bisa jawab. Trus juri menjawab Nabi Qorun. Setelah itu suasana agak ribut. Berdirilah salah satu panitia dengan lantang bilang: Nabi yang menemukan harta karun adalah Nabi Qorun. Padahal Qorun itu kan yang ditenggelamkan ke dasar bumi itu toh mbak?”

Aku berpikir sejenak. “Iya memang nabi yang terkaya itu Nabi Sulaiman. Dan Qorun memang ditenggelamkan bersana hartanya. Masa’ Nabi kok di adzab?”

Laporan serupa saya dengar juga dari Isti, adik saya, yang waktu itu ikut menemani lomba.

“Aku udah cari cari ke Internet mbak, gak ada yang namanya Nabi Qorun. Piyeee kui…” gerutunya kesal.

Saya Cuma mengangguk-angguk. Akhirnya saya bertanya-tanya pada teman-teman  yang pintar agama tetang siapa Nabi Qorun itu. Berharap mungkin saya yang masih rendah ilmunya, atau mungkin ada cerita Qarun yang lain yang belum saya ketahui. Eh malah diketawain sama teman. Saya buka juga Al-Qur’an saya telusuri nama nama Nabi yang tercantum, tak ada satupun ayat yang menunjukkan bahwa Qorun adalah seorang Nabi. Keyakinan saya dari awal juga sudah mengatakan bahwa QORUN BUKANLAH SEORANG NABI.

***

Siapakah Qorun?

Qarun, lebih dikenali sebagai sepupu Nabi Musa ‘alaihi salam, namun ada juga pendapat ahli sejarah menyatakan dia adalah bapak saudara Nabi Musa. Qarun berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir). Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada Fir’aun dan Haman. Allah telah mengaruniai Qarun harta yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi lemari simpanan.

Perbendaharaan harta dan lemari-lemari ini sangat berat untuk diangkat karena beratnya isi kekayaan Qarun. Walaupun diangkat oleh beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun, mereka masih kewalahan.

Qarun mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong. Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan lemah di kalangan Bani Israil.

Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani Israil terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang yang beriman kepada Allah dan lebih mengutmakan apa yang ada di sisi-Nya. Karena itu mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun dan tidak berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan, kesesatan dan kerusakannya serta berharap agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang lain.

Adapun kelompok kedua adalah yang terpukau dan tertipu oleh harta Qarun karena mereka telah kehilangan tolok ukur nilai, landasan dan fondasi yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan hartanya. Mereka menganggap bahwa kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan kecintaan Allah kepadanya. Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu.

Qarun mabuk dan terlena oleh melimpahnya harta dan kekayaan. Semua itu membuatnya buta dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang mukmin.

Ketika mereka meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas sedala nikmat harta kekayaan dan memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat, kebaikan dan hal yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya mengatakan “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”

Penyebutan Qarun dalam Al-Qur’an

Nama Qarun diulang sebanyak empat kali dalam Al-Quran, dua kali dalam surah al-Qashash, satu kali dalam surah al-`Ankabut, dan satu kali dalam surah al-Mu’min.

Penyebutan dalam surah al-`Ankabut pada pembahasan singkat tentang pendustaan oleh tiga orang oknum thagut, yaitu Qarun,Fir’aun, dan Haman, lalu Allah menghancurkan mereka.

Dan (juga) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-`Ankabut: 39-40)

Penyebutan dalam surah al-Mu’min (Ghafir) pada kisah pengutusan Musa a.s. kepada tiga orang thagut yang mendustakannya.”Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman, dan Qarun, maka mereka berkata, `(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.’” (al-Mu’min:23-24)

***

Lalu bagaimana mungkin seorang nabi diazdab Allah dan mati dalam keadaan zalim karena kesombongannya? Sedangkan salah satu tugas seorang nabi adalah penyampai risalah atau ilmu

Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?” Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu:[821] “Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir“. [An Nahl: 27]

[821] yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi ilmu ialah: para malaikat, nabi-nabi dan orang-orang mukmin.

tentu saja cerita “Qarun adalah Nabi” bukanlah yang pertama. Tahun tahun sebelumnya juga tergores noda noda hitam. Masih terngiang jelas ketika salah seorang santri bercerita padakuhidup tanpa ilmu

“mbak, tadi tuh mas Fulan yang juri lomba shalat, kui gawene mendem (kerjaannya mabuk) loh?. Gek ketho’e to ra tau shalat (Trus kaya’nya juga gak pernah shalat)”

Astaghfirullah, hatiku kaget. “Apa benar dek?”

“waaah mbak mbak, tanya saja sama pemuda pemudi desa semua juga tau.”

**

Kisah yang lain saya alami sendiri setahun yang lalu ketika saya ikut menemani mereka lomba. Pada waktu itu masih ada lomba hafalan hadits. Adik saya (Dinda) yang masih kelas 5 saya ikutkan. Dalam waktu singkat, sekitar dua mingguan, saya mengajarkan 5 hadits yang saya ambil dari Hadits Arba’in. kelima hadits itu dihafalkan mulai dari awal, lalu pengucapan hadits dalam bahasa Arab, artinya serta riwayatnya.

Walaupun cuma lima saya tetap optimis adik saya insya Allah juara. Tapi tetap bagi saya yang penting ilmunya bukan juaranya.

Ketika hari lomba saya ikut masuk ke kelas menemani Dinda mengikuti lomba hafalan hadits (kebetulan lomba itu menggunakan gedung sekolah SD di desa itu). Saya duduk di urutan bangku nomor tiga bersama dinda. Ketika diundi, Dinda mendapat giliran nomor tiga.

Ketika saya sedang duduk duduk, di depan saya ada seorang anak kecil yang memegang secarik kertas. Saya tengok ternyata isinya adalah hadits yang dihafalkan. Tetapi hati saya langsung istighfar. Bagaimana tidak? Di kertas itu bertulisakan 15 hadits pendek, tanpa sanad, riwayat dan arabnya. Hanya artinya. Seperti ini:

  1. Kebersihan sebagian dari iman.
  2. Shalat adalah tiang agama.
  3. …dst sampai 15 (saya tidak sempat membaca semuanya)

Padahal yang “kebersihan sebagian dari iman”  bukan dari hadits Nabi, melainkan hanya semboyan saja.

Apakah itu yang kalian ajarkan pada santri santri kalian di TPQ ???

***

Miris memang. Sekarang banyak sekali orang-orang yang berkata tentang agama tetapi mereka sebenarnya tidak mengetahuinya, sedangkan hanya mendengar dari perkataan orang-orang yang belum tentu benar.

Allah berfirman dalam Surat Al Israa’ ayat 36:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya

apakah mereka tidak takut menyampaikan ilmu tanpa dasar, sedangkan mereka akan dimintai pertanggung jawaban??. Semoga Allah selalu memberikan hidayah-Nya. Amiin.

Wallahu a’lam

Tentang anggra ayyaadon

I am just an ordinary girl with many weaknesses Tampilkan semua tulisan oleh anggra ayyaadon

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.