Semalam Berapa Mbak?

Kisah catatan kecil ini berawal mungkin sekitar pertengahan tahun 2009 (aku sudah tidak ingat pasti kapan terjadi kejadian ini). Sebenarnya kejadian ini pun bukan menimpa-ku, namun teman-ku lah yang mengalaminya. Lalu dia menceritakan hal ini kepada-ku.

Sebut saja namanya Timi (bukan nama sebenarnya -red). Aku dan dia sama sama kuliah di kampus dan jurusan yang sama. Sedikit prolog, sebenarnya aku tidak setipe dengan Timi yang orangnya gaul pada setiap orang –yang di kenal maupun tidak dikenal–  (karena aku orangnya pemalu dan pendiam pada orang yang tidak dikenal). Aku sempat mengenal Timi dari temanku waktu OSPEK. Tapi nasib ku bisa dekat dengan Timi karena pada saat semester tiga aku nyasar ke kelas C (yang pada awalanya kelasku adalah kelas F). Nyasar ke kelas baru memang harus menyesuaikan lagi. Dan Timi bagaikan ‘perantara malaikat’ yang begitu tulus membantu dan menemaniku. Dan sekarang aku besahabat dengannya. Dia orangnya sangat cerewet, supel, ramah pada setiap orang. Pokoknya kalo ada orang didekatnya (entah laki ato perempuan) pasti jadi temannya. Minimal tau nama masing-masing. Tapi sisi negatifnya yang tidak ku sukai adalah orangnya suka berlebihan. Jika dia menyenangi atau membenci seseorang sesuatu sikapnya sangat berlebihan. Dan tragisnya dia lebih mudah membenci teman-temannya (yang di mata dia buruk) ketimbang menyenangi mereka.

Di sebuah kampus swasta terkenal di daerah S*** , jam menunjukkan sekitar pukul 12.00 siang hari. Aku sedang bersama Timi keluar kelas habis menyelesaikan satu mata kuliah di kampus I. Suasana kampus begitu ramai dan sibuk pada jam jam istirahat seperti ini. Seperti biasa, jadwal sebelum pulang aku sempatkan mampir ke kost Timi (karena aku tidak ngekos) untuk shalat dan makan, atau sekedar menyandarkan pundak melepas lelah. Namun pada saat itu kebetulan aku dan Timi sama sama punya hajat yang harus ditunaikan ke Perpustakaan Pusat (di kampus II) yang tidak terlalu jauh dari kampus I. Karena perlu menyebrang jalan yang sangat ramai paling tidak membutuhkan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki ke sana. Kami sama sama ingin mengembalikan buku yang kami pinjam.

Aku pun ingat buku itu kutaruh di jok motor, dan motor ku parkirkan ke parkiran belakang. Jadi, aku harus ke parkiran belakang dulu untuk mengambil buku yang hendak ku kembalikan ke perpus.

“Kalo gitu aku juga ada keperluan sebentar dulu”, kata Timi. (afwan pemirsa, ‘keperluan’ itu aku lupa apa)

“Oke …lah kita ketemu dimana Tim?” tanyaku .

Selagi dia berpikir aku tiba tiba menyarankan

“Kita ketemu di gerbang pintu masuk parkiran depan ya?”

“Oke”

“Beneran loo tunggu aku. Ntar tak SMS deh.”

“oke oke…tar SMS aja”

Akhirnya kami berpisah. Setelah aku mengambil buku di parkiran belakang (letaknya juga lumayan, 5 menit perjalanan kaki menuju kesana. Jadi, bolak balik membutuhkan waktu 10 menit), aku segera berjalan cepat menuju gerbang pintu masuk parkiran depan. Karena ku pikir aku menghabiskan waktu cukup lama ketika menyelesaikan keperluanku. Entah bagaimana bentuk berjalanku tak bisa ku bayangkan. Karena teman teman bilang kalau aku berjalan biasa saja sudah terlihat cepet, apalagi kalo aku berjalan cepet. Heee.

Sesampai di pintu gerbang aku lega Timi belum terlihat. Pikirku, berarti aku tidak membuatnya menunggu. Akhirnya ku tunggu Timi sambil mengetik sms untuk mengabarkan Timi bahwa aku telah menunggunya.

Beberapa menit berlalu, aku mulai gelisah. Tak ada tanda tanda postur Timi yang lumayan berisi (gendut) itu muncul. Di handphone juga tak ada deringan sms darinya. Padahal beberapa kali kukirim sms keberadaanku namun, tak ada jawaban, nihil. “kemana lagi nih anak” sungut ku agak kesal. Cuaca yang cukup panas ikut mengobori emosi-ku yang mulai menyulut. Sambil menghentakkan kaki, kesal aku terus bergumam “aduuuh…mana belum dhuhur niy” ku teringat bahwa waktu semakin siang. Beberapa lama kemudian, akhirnya Timi membalas sms ku:

      ” Aku sudah di perpus Anggra. Kita ketemu di perpus saja “

Hhhhh…aku menghela napas panjang. Mulut ku mulai umik-umik, kesal tak karuan. Aku berjalan terburu buru ke perpus sambil memasang wajah cemberut yang siap menyambut Timi.

Sampai di perpus kulihat Timi sedang duduk di beranda dan tampak seorang teman perempuannya baru saja meninggalkannya. Sepertinya mereka habis berbincang-bincang tadi sebelum aku datang.

“eh Anggra”, begitu Timi melihat ku “kamu kok lama banget sih?”

Haduuuuhh ni anak sambutannya benar benar bikin guemeeesssss (gemes karena marah).

“lama? Aku tu nungguin kamu di dekat pintu gerbang parkiran depan, uda kaya’ patung selamat datang tau?” semburku tak mau kalah namun tidak berteriak-teriak. Karena aku masih sadar aku berada di gedung yang sunnah muakkad nya harus diam. “kita kan janjiannya di sana? Piye toh ?”

Tiba tiba Timi langsung menarik lenganku agar duduk di sampingnya.

“haduuh Nggraaa…aku bingung, takut aku. Haduuh”, Timi mulai meracau tak jelas sambil menoleh ke kanan dan kekiri. Sikap berlebihannya kambuh, pikirku.

Tapi aku mulai memandangnya sedikit iba. Ketika terduduk, amarah-ku mulai berkurang, “Mang ada apa Tim?”

Dia masih menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu dia membisik pelan dekat wajahku. “masa’ aku tadi ditawar cowok”

“HAH??” aku terperanjat. Tapi lagi lagi aku tidak berteriak. Aku cuma kaget dengan kata katanya barusan walaupun aku belum terlalu paham. “Di tawar gimana?”

“iya di tawar: mbak semalam berapa?, gitu” ungkapnya

“MasyaAllah Tim? Tenan opo ra?” aku tak percaya. Mukaku mulai memerah marah. Bagaimanapun juga aku tak terima temanku diperlakukan seperti itu. Secara umum sebagai wanita pun itu benar benar menjatuhkan harga diri!

“iya Nggra, aku bingung aku rasanya ingin lari sekencang-kencangnya”

Aku sedikit  bingung dengan ekspresi kata-katanya. Masa’ diperlakukan seperti itu malah ingin lari (?). Aku pun menjawab “Kalo aku digituin tak tampar orangnya dulu” geramku sambil berdoa semoga tidak akan pernah mengalaminya.

“Itu sebabnya aku langsung ke perpus”

“Emang gimana ceritanya Tim?”

“Gini, tadi tu aku sebenarnya uda nunggu kamu di gerbang dekat parkiran depan kampus. Trus tiba tiba ada dua cowok, boncengan menghampiriku. Cowok yang duduk di depan tiba-tiba langsung bertanya “semalam berapa mbak?”. aku yo kaget toh Nggra. Trus aku mendengar cowok yang dibelakang langsung menyambar kata-kata temannya dan bilang: “masa’ mbak kaya gini mbok tawar?”. Jawab cowok yang duduk di depan “lah mbak’e mont*k kok”. Lalu aku langsung pergi cepat cepat. Dan aku nunggu kamu disini. Baru setelah itu aku sms kamu. Maaf ya Nggra tadi tak tinggal.”

Kini, aku paham mengapa Timi tidak menantiku di pintu gerbang sesuai perjanjian. “Iya gak papa” aku mengangguk. Tapi geli juga mendengar alasan ‘montok’ tadi.

“Ya sudah bukumu balikin dulu sana. Tadi buku ku sudah tak balikin.”

Aku mulai bangkit dari tempat duduk. Senyumku mulai merekah. “Ya Ampun Tiim…Tim. Gimanaaa coba kalau aku yang mengalami. Hiiiyy…” celetukku sebelum meninggalkan dia. Lalu sedikit kubayangkan, kalau melihat parasnya, asli  wajah desa dengan beberapa polesan. Pakaiannnya… sebenarnya bukan pakaian ketat, tapi karena postur tubuh mepet dengan blouse yang dipakainya, mungkin memberi kesan ketat apalagi ditambah celana jeans pensil nya. Dan jilbabnya ? hemmm . Mungkin memang wajar kalo diperlakukan seperti itu. Tapi kata kata cowok yang duduk dibelakang juga ada benarnya: masa’ mbak’e kaya gini mbok tawar? . “hemm… kaya’ gak ada yang lebih cantik aja?” tambahku. heee (maafkan aku Timi >.< )

Hihihi aku ketiwi ketiwi dalam hati. Namun merinding juga sih…karena aku tadi juga menunggu Timi di tempat itu. Jangan-jangan memang sudah umum para ‘ayam kampus’ memamerkan diri mereka di tempat itu? Ah masa bodoh lah. Toh itu tempat umum, ramai, dan strategis. Memudahkan kita bertemu dengan siapa saja. Asal tidak ber’topeng’ dan berbaju ‘gaul’ insyaAllah aman aman saja.

Yang jelas aku sudah sering memperingatkan Timi untuk berpakaian syar’i. namun tidak digubrisnya. Tapi pemirsa,  sekarang Timi telah melakukan peningkatan loh. Di mulai (kalo gak salah) saat pertengahan 2010, pakaian Timi jauh dari kesan seksi atau ketat. Blouse panjang dan rok. Jilbabnya yang biasanya tipis model jilbab paris itu, sekarang masih dipakai tapi di doubeli biar gak menerawang dan modelnya juga lumayan (walo tidak lebar banget) yang penting nutupi dada-lah.

Melayang di kepala-ku Surat Al Ahzab ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Yeah… “agar mereka tidak di ganggu” . Siapa yang masih mau ragu tujuan berjilbab dari ayat Al-Qur’an yang satu ini?

Walaupun bukan aku yang mengalaminya, tetap menjadi pengalaman serta nasehat berharga yang tak terlupakan.

sumber: Timi temanku, (mudah mudahan dia tidak membaca cerita ini, kalau pun dibaca pun, mudah mudahan dia tidak marah…heee)

Tentang anggra ayyaadon

I am just an ordinary girl with many weaknesses Tampilkan semua tulisan oleh anggra ayyaadon

2 Tanggapan to “Semalam Berapa Mbak?”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.