Adab Duduk di Pinggir Jalan (1)

(Oleh: Ahmad Hamidin As-Sidawy)

عَنْ أَبِـي سَعِيدٍ الْـخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ
إِيَّاكُمْ وَالْـجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا بُدَّ لَنَا مِنْ مَـجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنْ أَبَـيْتُمْ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ
قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ غَضُّ البَصَرِ وَ كَفُّ الأَذَى
وَ رَدُّ السَّلاَمِ وَاْلأَمْرُ بِالْـمَعْرُوفِ وَ النَّهْيُ عَنِ الْـمُنْكَرِ

Dari Abu Said Al-Khudry radhiallahu’anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian duduk-duduk di jalan”.
Maka para Sahabat berkata: “Kami tidak dapat meninggalkannya, karena merupakan tempat kami untuk bercakap-cakap”.
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata: “Jika kalian enggan (meninggalkan bermajelis di jalan), maka berilah hak jalan”.
Sahabat bertanya:”Apakah hak jalan itu?”
Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Hadits di atas menjelaskan, sekaligus membenarkan waqi’ (kenyataan) pahit yang melanda umat ini. Di mana mayoritas kaum muslimin sekarang banyak menghabiskan waktunya untuk nongkrong di tempat-tempat keramaian atau tepi jalan, sambil menikmati kemaksiatan dengan model dan corak yang bermacam-macam. Kalau kita tanya, mereka akan menjawab, “Hanya cuci mata, refreshing, menikmati pemandangan” dan yang semisalnya.

Padahal ketika kita ajak mereka untuk hadir di majelis ta’lim, mengaji agama, merekapun beralasan sibuk, capek, tidak punya waktu dan setumpuk alasan lain. Bahkan karena kebenciannya dengan ilmu agama, tidak jarang di antara mereka ada yang sengaja beralasan sakit, padahal tubuhnya sehat.

Ini adalah realita pahit yang menimpa kaum muslimin sekarang ini, khususnya muda-mudi kita. Sebagian mereka melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allâh. Merekapun lupa, waktu adalah modal utama yang tak akan pernah kembali lagi jika sudah berlalu. Sedangkan kebahagiaan dan kecelakaan hamba di akhirat sangat bergantung kepada cara mengisi kehidupannya di dunia ini.

Apakah mereka tidak sadar, pekerjaan mengumbar hawa nafsu itu akan mengundang murka Allâh Ta’ala dan semakin menjauhkan mereka dari hidayah serta petunjuk-Nya? Tidakkah mereka renungi, kelak mereka akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kesempurnaan nikmat (indra) yang mereka miliki?

Alangkah bahagianya orang yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan kepada Allâh Ta’ala, orang yang menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan dan kesia-siaan.


MAKNA LAFAZH HADITS

إِيَّاكُمْ Adalah kalimat yang digunakan untuk mentahdzir (memberikan peringatan keras) terhadap sesuatu.
الطُّرُقَاتِ Adalah jama’ dari طرق, mufrodnya adalah طريق sehingga kalimat ini adalah merupakan جمع الجمع (dobel jama’).
لا بُدَّ Tempat menghindar atau lari.
الكَفُّ Yaitu menahan. [Adabun Nabawy hal 69 karya Abdul Aziz Al Khuli]
غَضُّ البَصَرِ Menundukkan pandangan dari yang diharamkan.
رَدُّ السَّلاَمِ Menjawab salam orang yang lewat.
كَفُّ الأَذَى Tidak mengganggu orang yang lewat, baik dengan ucapan maupun perbuatan. [Lihat Subulus Salam oleh As-Shon'any 4/316]

ASBABUL WURUD HADITS

Dari Aisyah radhiyallâhu’anha, ia berkata: “Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam (suatu ketika) mendatangi majelis kaum Anshor, lalu mengucapkan salam kepada mereka, merekapun menjawab salam. Nabi tidak menyukai majelis itu, lalu merekapun mengatakan: ‘Wahai Rasûlullâh, (ini) adalah majelis yang dilakukan oleh bapak-bapak kami dulu di waktu jahiliyah, maka kami ingin meramaikannya dengan duduk-duduk padanya’. Lalu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan: ‘Jika kalian enggan kecuali dengan bermajelis maka jawablah salam, tundukkanlah pandangan dan tunjukilah jalan.’” [Majmau Zawaid wa Mambau Fawaid karya Al Haitsami 59-60]
TAKHRIJ HADITS

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Adâbul Mufrad No.1150, Muslim (Muktasharnya) dalam kitab: Adab, Bab Larangan Duduk di Jalan no. 1419 hal: 374. Abu Dawud dalam Bab Duduk di Jalan (4816). [Adabun Nabawy]

Hadist yang semakna juga di keluarkan oleh Ath-Thahawy dalam Musykilil Atsar 1/58, dan Al- Bazâr dalam Musnadnya, 2/425/2018 (Kasyful astar) dari jalan Muhammad bin Al-Mutsana dan Yazid bin Sinaan, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sinaan dari Abdullah bin Mubarak dari Jarir bin Hazim dari Ishaq bin Suwaid dari Ibnu Hujairoh dari Umar, dengan lafadz:

إِيَّاكُمْ وَالْـجُلُوسَ فِـيْ الصُعَدَاتِ فَإِنْ كُنْتُمْ لاَ بُدَّ فَاعِلِيْـنَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ
قِيْلَ وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ غَضُّ البَصَرِ وَ رَدُّ السَّلاَمِ وَإِرْشَادُ الضَالِ

Jauhilah oleh kalian duduk di jalan,
jika kalian mesti berbuat demikian, maka berilah hak jalan”.
Ada yang bertanya: “Apakah hak jalan itu?”
Beliau menjawab:
“Menundukan pandangan, menjawab salam,
dan menunjuki orang yang tersesat.”

Syeikh Al-Albaniy berkata dalam Silsilah Ahadits Shohihah 6/11-13: “Hadist ini shohih. Hadits ini terdapat di dalam Shohihaini dan Adabul Mufrod 1150, Abu Dawud 4815, Ibnu Hibban 594, dan Ath- Thahawy dan Ahmad 3/36 dari Said Al-Khudry semisalnya secara marfu’. Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Muslim 7/2 dari hadits Abu Tolhah tanpa lafadz وَإِرْشَادُ الضَالِ (menunjukkan orang yang tersesat).

Dan Abu Said menambahkan :

وَ كَفُّ الأَذَى وَ رَدُّ السَّلاَمِ وَاْلأَمْرُ بِالْـمَعْرُوفِ وَ النَّهْيُ عَنِ الْـمُنْكَرِ

Menyingkirkan gangguan, menjawab salam,
memerintahkan yang baik dan mencegah yang mungkar.

Dan dalam riwayat Ahmad 3/61 dari jalan Abdurrozaq di dalam Al-Musonnaf 11/20/19786, dari seorang rowi dari Abi Said, dengan mengganti lafadz وَإِرْشَادُ الضَالِ dengan lafadz: وَأَرْشِدُوْا السَّائِلِ dan lafadz (ini) adalah semakna dengan lafadz وَإِرْشَادُ الضَالِ.

Hadits yang semakna dengan hadits ini diriwayatkan dari Abi Huroiroh, Barro’ bin Azib, Abdullah bin Abbas dan Sahl bin Saad.

I. Hadist Abi Huroiroh mempunyai dua jalan:

  • Dari Ala’ bin Abdurrohman dari bapaknya dari Abi Hurairoh: ia menyebutkan hadits tersebut dengan lafadz:إِدْلاَلُ السَّائِلِ وَرَدُّ السَّلاَمِ وَغَضُّ الْبَصَرِ وَاْلأَمْرُ بِالْـمَعْرُوفِ وَ النَّهْيُ عَنِ الْـمُنْكَرِMenunjuki orang yang bertanya, menjawab salam,
    menundukkan pandangan, memerintah kan yang baik
    dan mencegah yang mungkar.

    (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod (1049)Aku (Al-albany) berkata: “Sanadnya shohih sesuai dengan syarat Muslim.”
  • Dari Abdirrohman bin Ishaq dari said Al-Maqburiy dari Abi Huroiroh dengan lafadz:
    وَغَضُّ الْبَصَرِ , وَإِرْشَادُ ابْنِ السَّبِيْلِ ,تَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللهَ ,وَرَدُّ التَّحِيَّةِ
    Menundukan pandangan, menunjukkan Ibnu sabil, mendoakan orang yang bersin apabila dia mengucapkan hamdallâh, dan menjawab salam.

    Hadist ini juga di riwayatkan oleh Imam Bukhari (1014), Abu Dawud (4816), Ibnu Hibban (595). Dan sanadnya jayyid (bagus) menurut syarat Muslim.

II. Hadist Barro’ diriwayatkan oleh Syu’bah dan yang lainya dari Abi Ishaq dari Abu Hurairoh dengan lafadz:

فَرَدُّوْا السَّلاَمَ ,وَأَعِيْـنُوْا الْـمَظْلُوْمَ ,وَاهْدُوْا السَّبِيْلَ

Maka jawablah salam, dan tolonglah orang yang teraniaya,
dan tunjukkanlah jalan.

(Hadist ini di keluarkan oleh Timidzi: 2727, Ad-Darimy: 2/282, Ibnu Hibban: 596, juga Ath-Thahawy,
Ahmad 4/282, 291, 393, 304.)

At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.”

Aku (Al-Albany) berkata: “Ini adalah hadits shohih karena shayid-syahidnya (penguat-penguat) yang terdahulu. Sedangkan kalimat وَأَعِيْـنُوْا الْـمَظْلُوْمَ (tolonglah orang yang teraniaya) juga tersebut di dalam Shohihaini dari jalan lain dari Barro’ dengan lafadz:

أُمِرْنَا بِسَبْعٍ … (الحديث)

Kami diperintahkan untuk mengerjakan tujuh perkara……
(al-hadits)”.
Dan Imam Muslim menyebutkan dalam riwayatnya 6/135 dengan lafadz إِرْشَادُ الضَّالِ (menunjukkan orang yang tersesat).

III. Hadist Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Laila dari Dawud bin Ali dari bapaknya dari kakeknya yaitu Abdullah bin Abbas dengan lafadz:

فَرَدُّوْا السَّلاَمَ ,وَ غَضُّوْا البَصَرَ ,وَاهْدُوْا السَّبِيْلَ وَأَعِيْـنُوْا عَلَى الْـحَمُوْلَةَ

Maka jawablah salam, tundukkanlah pandangan,
tunjukilah jalan serta tolonglah beban seseorang.

Hadist ini di keluarkan oleh Al-Bazaar 2019 dan berkata: “Kami tidak mengetahui dari Ibnu Abbas selain dari jalan ini, dan telah diriwayatkan dari jalan lain dengan beberapa lafadz. Tetapi kami tidak mengetahui hadits: وَأَعِيْـنُوْا عَلَى الْـحَمُوْلَةَ (tolonglah beban seseorang) selain hadits ini. Adapun Dawud tidak kuat dalam haditsnya dan jangan dianggap dia selalu benar haditsnya, tetapi dapat ditulis manakala perawi lain tidak ada yang meriwayatkan.”

Aku Al-Albany berkata: “Dan Ibnu Abi Laila –namanya adalah Muhammad bin Abdirrohman– jelek hafalannya, sebagaimana cacat tersebut telah diterangakan oleh Al-Haitsamy. Ia mengatakan seperti apa yang di katakan oleh Ibnu Hajar dalam Zawaid Al- Bazzar 2/211.

IV. Hadits Sahl, diriwayatkan oleh Abu Ma’syar, dia berkata: Abu Bakr bin Abdirrohman Al-Anshori telah menceritakan kepada kami dari Sahl, dengan lafadz:

قَالُوْا : وَمَا حَقُّ الْـمَجْلِسِ؟ قَالَ ذِكْرُ اللهِ كَثِيْـرًا وَإِرْشَادُ السَّبِيْلِ, وَغَضُّ الْبَصَرِ

Mereka bertanya: “Apa hak majelis?”, Rasulullah menjawab: “Banyak mengingat Allâh, menunjukkan jalan,
dan menundukan pandangan.”

(Hadist ini dikeluarkan oleh Ath-Thabrony
dalam Al-Kabir 6/105/5592)

Adapun hadits Wahsyi, diriwayatkan oleh Wahsyi bin Harb bin Wahsyi dari bapaknya dari kakeknya dengan lafadz:

فَرَدُّوْا السَّلاَمَ , وَغَضُّوْا مِنْ أَبْصَارِكُمْ ,وَاهْدُوْا اْلأَعْمَى ,وَأَعِيْـنُوْا الْـمَظْلُوْمَ

Maka jawablah salam, tundukkanlah pandangan kalian
dan tunjukkilah orang yang buta serta tolonglah orang yang teraniaya.

(Hadist ini dikeluarkan oleh Ath-Thabrony juga 22/138/367)

Al-Haitsamy berkata: “Perawinya adalah terpercaya, dan sebagiannya adalah lemah”.

Aku (Al-albany) berkata: “Harb bin Wahsyi tidaklah dikuatkan kecuali oleh Ibnu Hibban 4/173, dia mempunyai kesamaran, seperti yang saya jelaskan dalam kitab Taisiril Intifa’.” [Silsilah As Shohih jilid 6 (bagian pertama) halaman 9-15 Cetakan Maktabah Maarif Riyadz]

….bersambung ke Adab Duduk di Pinggir Jalan (2) ….

Tentang anggra ayyaadon

I am just an ordinary girl with many weaknesses Tampilkan semua tulisan oleh anggra ayyaadon

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.