Melihat artikel Hati-Hati Mandi Bola (yang sebelumnya) yang (dalam kurun waktu satu bulan) telah dilihat sekitar 3.000 lebih di blog saya ini, membuat saya berpikir, betapa hal ini sangat menarik perhatian banyak orang, terutama para orang tua, karena kasus mengerikan yang mematikan bahkan di tempat permainan untuk anak-anak. Saya memang belum pernah mendapatkan kasus dari orang terdekat tapi kalo teringat bahwa saya juga pernah mandi bola…hiiyyy jadi merinding. Alhamdulillah saya tidak apa-apa waktu mandi bola itu. Dan harus diakui memang permainan yang satu ini ‘menantang’ rasa imajinasi anak-anak untuk ‘nyemplung’ ke kolam yang penuh warna warni bola dan tidak basah lagi. Saya saja sebenarnya (sebelum membaca artikel bahaya mandi bola, masih pengen banget ikut nyemplung , lupa kalo sudah kepala dua ..hadeh hadeeh )
Kejadian Kejadian Lain di Tempat Mandi Bola
Sekitar satu bulan yang lalu, ketika saya sedang silaturrahim ke tante saya di Cibubur, beliau mendapat sms dari temannya yang menyatakan bahaya permainan mandi bola.
Inti sms tersebut adalah adanya seorang anak yangmeninggal tidak berapa lama setelah main mandi bola (maaf saya lupa tempatnya dimana). Hasil autopsi menyatakan adanya racun ular pada kaki anak tersebut. Setelah ditelusur ke arena mandi bola dan dilakukan pembongkaran, ternyata di dasar ruangan tersebut ada ular kecil berbisa berada di dalamnya. Kemungkinan sisa-sisa makanan dari anak-anak yang bermainlah yang mengundang ular tersebut untuk bersarang di situ.
Waktu itu saya tidak terlalu menganggap berita tersebut, karena bisa jadi hoax karena tidak jelas sumbernya. Dan hari ini, saya membaca thread dari salah satu mak Reos (Recommenden Online Seller and Buyer) di FB yang menyatakan bahwa anak omnya meninggal dengan peristiwa hampir sama seperti yang saya tuliskan di atas ( inna lillahi wa innailaihi roji’un).
Berikut saya copas status n info dari yang bersangkutan (mak Eka Pusphita) di forum Reos :
Pagi Pagi Di Kejutkan Anak Om yang Sakit Di Gigit Ular Setelah Mandi Bola
katanya tempat kejadian di Solo, tepatnya di S*** G**** Mall (SGM, orang Solo pasti tau tempatnya– red)
katanya sih waktu anak bermain kolam bola..ternyata di dalam kolam ada ular ….digigit..
“ceritanya setelah bermain di kolam bola anaknya sakit mak…trus dibawa ke RS…panas demam tinggi 3 hari kemudian meninggal dunia…anaknya kira-kira umur 2 tahun…hasil visum Rumah sakit menyatakan anak terkena racun ular berbisa. Setelah dicek ternyata benar-benar ada ular. Ularnya tidak besar sih, panjangnya sekitar 30cm tapi berbisa. Padahal lokasi bermainnya kolam bola di Mall lantai 3 lho. Sekarang om lagi proses mengurus tuntutan ke pengelola tempat bermain anak di Mall tersebut.
Ini menunjukkan kalo di mall pun kolam bola tidak jamin bersih. Kolam bola kan tidak pernah dikuras. Anak usia besar kalo main bola kakinya bisa ongkreh-ongkreh sampai dasar. Dari yang saya baca, ada kasus gitu juga.. Anak-anak biasanya main d kolam bawa makanan atau sambil ibunya menyuapinya. Makanan yang jatuh ke kolam tidak pernah dibersihkan karena kolam bola tidak pernah dikuras. Katanya itu yang mengundang kuman, ular, ulat, semut, ular kawat, kelabang, kaki seribu, dll. Naudzubilah, semoga tidak terjadi pada anak kita.
_________________________
Membaca dan memposting artikel-artikel tentang mandi bola, mengingatkan saya pada postingan saya di facebook tentang berbahayanya permainan indoor
Area Bermain Indoor Banyak Ditemukan Bakteri Berbahaya
Fasilitas tempat bermain anak-anak dalam ruangan (indoor) telah lama menjadi tren. Tempat bermainnya mempunyai bentuk menyerupai tabung, terowongan, tali memanjat, dan jaringan, serta trampolin. Tapi di area ini ternyata ditemukan lebih banyak bakteri patogen dan bakteri mematikan lainnya.
Tempat bermain tersebut banyak ditemukan di restoran cepat saji. Data menunjukkan bahwa, di Amerika Serikat saja telah ada lebih dari 15.000 fasilitas bermain indoor. Masing-masing tempat bermain tersebut rata-rata dikunjungi 50 anak per hari. Hal tersebut berarti 750.000 anak per hari dan 270.000.000 kali per tahun yang mengunjungi fasilitas area bermain indoor.
Pada musim panas tahun 2011 telah dilakukan kunjungan dadakan ke area bermain indoor dalam usaha makanan cepat saji (fast food) menjadi dorongan untuk meningkatkan keselamatan anak-anak di area bermain indoor. Saat kunjungan tersebut telah ditemukan alat bermain yang rusak, makanan busuk, kotoran, dan kontaminasi tinja.
“Saya meminta bantuan seorang ahli mikrobiologi dan analis laboratorium untuk melihat apakah kondisi tersebut, selain mengganggu penglihatan juga akan berpengaruh pada kesehatan anak-anak. Hasil tersebut menunjukkan masalah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan,” kata Erin M. Carr Jordan seperti dilansir dari CNNHealthNews, Selasa (6/11/2011).
“Kami tidak hanya menemukan bakteri patogen yang dapat membuat anak sakit, namun kami juga menemukan bakteri yang berpotensi mematikan. Untuk memastikan kondisi tersebut tidak hanya terdapat di lokasi tersebut, saya bepergian ke seluruh daerah dan mengambil video serta swab,” ungkap Jordan.
“Dalam 5 bulan terakhir ini saya telah mengumpulkan data dari 6 jaringan nasional, serta beberapa perusahaan yang dimiliki secara independen. Lokasi telah dipilih secara acak dan mewakili tinggi dan rendah status sosial ekonomi di daerah pedesaan maupun perkotaan,” kata Carr Jordan.
Bakteri yang ditemukan, antara lain Staph aureus, Pseudomonas, E. coli, Bacillus cereus, dan coliform. Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan mual dan muntah, infeksi kulit, meningitis, dan kematian.
Kegagalan pemeliharaan yang ditemukan di area tempat bermain indoor termasuk terdapat alat bermain yang patah, baut dan sekrup hilang, platform yang tidak memenuhi syarat, dan lain-lain.
Umpan balik yang didapatkan dari orangtua juga tidak kalah seriusnya. Dalam beberapa bulan terakhir telah menerima ratusan pesan dari orang tua yang mengatakan mengenai cedera atau penyakit anak mereka.
“Berdasarkan masukan dari orang tua, dokter anak, dokter keluarga, ahli mikrobiologi, dan latar belakang saya sendiri sebagai spesialis anak dan pengembangan remaja, saya memutuskan untuk memperbaiki masalah tersebut. Dr. Annissa Furr dan saya membentuk Kids Play Safe. Kami mendirikan organisasi non profit yang dibentuk untuk meningkatkan kesadaran, melakukan pengujian mikrobiologi, dan menjangkau media dan legislator dengan harapan dapat mempengaruhi kebijakan publik mengenai masalah tersebut,” kata Carr Jordan.
Anak balita, TK, dan anak usia sekolah, karena pola perilaku dan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Sehingga dianggap sebagai subset dari populasi yang sangat rentan terhadap penyakit, cedera, dan infeksi.
Kurangnya peraturan yang berkaitan dengan pembersihan dan pemeliharaan area bermain indoor merupakan risiko kesehatan dan keselamatan. Pembersihan dan pemeliharaan harus rutin, menyeluruh, dan dapat diverifikasi dan harus berlaku untuk semua restoran fast food dengan area bermain indoor. Karena anak-anak memerlukan tempat bermain yang memenuhi syarat keamanan, keselamatan, dan kesehatan.
Jadi untuk para orang tua pada khususnya dan kita pada umumnya, karena kita tidak pernah tahu seberapa persen jaminan kebersihan di tempat umum, tak ada salahnya menyediakan alat-alat kesehatan (seperti sabun mandi kesehatan dan sabun cuci tangan) serta membiasakan mencuci tangan kaki, bahkan mandi, setelah berpergian (terutama dari tempat-tempat bermain/umum).
**baca juga (tulisan sebelumnya): Hati Hati Mandi Bola **













