Pelumpuh Sayap Dara (part 2)

cerita sebelumnya : aku sepertinya jatuh cinta sama Yusuf.  Sejak kejadian di rumah Zulaikha dan di penjara, benar-benar meningglkan jejak daya tarik ikhwan yang satu itu. Ku putuskan sejenak ijin melarikan diri dari rumah untuk mencari suasana baru. Dua bulan …ya . Dua Bulan.

Dua bulan berlalu. Hari-hari kutempuh berkutat dengan tugas kuliah yang menumpuk dan seakan tak akan ada habisnya. Aku sementara pindah ke luar kota seminggu setelah kunjunganku ke sel dimana Yusuf dipenjara. Walau ke luar kota, tetapi jarak dengan kampusku tetap dekat.

Sungguh dua bulan masa-masa kritis. Dimana aku mendapati hatiku yang bergejolak. Seakan hanya Yusuf yang memenuhi otak kanan maupun kiri. Telah habis 3 buku tulis ku tuang puisi isi hatiku. Sadar akan posisiku, itulah yang membuat aku harus melupakan untuk memiliki Yusuf. Sehingga tak ada satu kabarpun tentang dia untuk ku masukkan dalam kedua kupingku.

”anggra, ayuk cepetan packingnya” mama mengingatkanku untuk yang ke delapan kalinya.

”iyya ma… ini sudah selesai kok.” hari ini aku akan kembali pulang ke rumah. Kurasa dua bulan sudah cukup membuat repot paman dan bibi. Dua bulan juga sudah cukup untuk melupakan sedikit kenangan tentang Yusuf. Padahal, pertemuan dengan Yusuf tidak lebih dari dua jam. Kini baru kusadar, kemahalan akan obat  ”jatuh cinta” itu tak terukur dengan uang.

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

”anggraaaa”,

”Maisyaaa”,

Kami saling berpelukan. Kangen. Akupa dua bulan kulalui tanpa celotehannya… ahhh hampa terasa. Maklum Maisya bukan teman kuliahku. Setelah lulus SMA, ia mengikuti kursus, mulai dari kursus menjahit, bordir, memasak, hingga kursus menyetir. Katanya, namanya juga zaman sudah modern, siapa tahu suatu saat ditawari mengendarai pesawat?. Duh, emang nyambung ya?

”nggra, tau gak, aku benar-benar kesepian dan tersiksa tiada kamu disampingku. Kamu tau kenapa?

Aku menggeleng

”karena tak ada yang mau denger celotehanku selain kamu. Jaddi, selama  dua bulan aku ngampet nyeloteh…”,

Huuuh! Dasar nih anak. Kira’in kangen karena rindu kecantikanku ato kebaikanku… eh malah rindu karena aku selalu jadi pendengar setia.

”tau tentang kabar Yusuf terkini?”,

”sudahlah Mai, anggra gak mau membahas dia. Cukuplah kisah masa lalu itu yang menghantuiku. Kini, jangan ada lagi”,

Maisya mengusap kepalaku. ”anggra sayang, ini kabar bahagia kok. Aku cuma mau bilang bahwa Yusuf akan segera menikah”,

Alhamdulillah, tidak ada pintu besi lagi yang menjepitku. Sehingga tidak ada juga korek penyulut api cemburu yang akan membengkakkan jantungku.

”ohya? Aku bahagia dengernya. Dengan siapa?”,

Maisya tersenyum. Dia lalu memberikan sebuah surat kepadaku. ”ini dari Yusuf”

Yusuf? Dia memberikanku surat? Tapi apa isinya? Bukankah selama ini aku menyimpan rahasia hati tanpa memberitahukan perasaanku padanya? Sedang dia tidak begitu mengenal ku karena pertemuan yang singkat dipenjara. Tapi mengapa ada surat? Ada sesuatu yang perlu diungkapkankah?

”gak usah sok misterius dan serius gitu nggra. Itu surat undangan kok.” hibur Maisya seolah mendengar tanyaku.

Aku menarik nafas panjang dan menerimanya dengan berat. Entah apakah kertas yg dipakai terbuat dari pintu besi, sehingga untuk membukanya pun terasa sangat enggan.

”ceritakan padaku tentang Zulaikha. Terakhir aku dengar Al-Aziz telah meninggal dan Zulaikha menjanda. Apakah ada antrian panjang para pria hendak yang melamarnya?”,

Maisya menggeleng. ”sudahlah, jangan tanya tentang Zulaikha. Itu sudah sebulan yang lalu. Sejak itu pula ayahku kehilangan pekerjaan. Untung rekan bisnisnya baik hati dan mau menawarkan pekerjaan yang lebih baik dari seorang supir. Sehingga sekarang ayahku bekerja di…”,

”Maisya yang cantik, yang aku tanyakan tentang Zulaikha, bukan tentang ayahmu, plis deh”,

”heee”, Maisya cekikian tanpa merasa berdosa. ”Zulaikha entah bagaimana kabarnya. Yang ku dengar dia jatuh miskin dan tidak cantik lagi. Ah entahlah. Yang jelas beberapa selebriti mengaku senang mendengarnya. Paling enggak mereka kehilangan saingan berat untuk mengisi berita-berita di infotemen.”,

Aku mengangguk. Bagiku penderitaan orang lain tetap menjadi kesedihan bersama. Kasihan benar Zulaikha.

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

Aku masih membolak-balik kertas berwarna coklat tua itu. Aneh, benar-benar aneh. Sekali lagi kubaca surat undangan dari Yusuf

Untuk Ukhty Anggra

Assalamu’alaykum

Ukhty, insyaAlloh tanggal 27 Maret  pukul 01.00 siang, karena paginya adalah akad nikah, Ana akan mengadakan walimatul ’ursy dengan seorang wanita yang ana cintai. Ana harap anti bisa datang. Jazakillah khoir katsir.

Wassalamu’alaykum

Tertanda

Yusuf

Tak ada kejelasan siapa pengantin wanitanya. Benar-benar surat yang aneh. Ah..tapi paling enggak Yusuf menuliskan secara khusus kepadaku. Ups.. aku tidak boleh menganggap suatu perhatian yang lebih. Terlebih lagi dia akan segera menikah. Bila rasa itu muncul lagi, akan menjadi runyam.

Mai, ahad dpn kta brgkat breng ke walimahNa Yusuf yea?’ aku meng-sms sahabatku Maisya dengan semangat. Aku sangat penasaran dengan siapa wanita yang beruntung yang mendapatkan cinta Yusuf?

”tiit tuut tiit tuut”,

okke! Naek mtormu kan? Boncengin ea? ’ balasan Maisya yang semakin membuatku semangat.

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

Tak ada yang istimewa. Seperti layaknya pesta resepsi orang biasa. Sebuah rumah sederhana dikelilingi dinding bambu pasangan. Kursi-kursi biru plastik berjejer rapi dengan beberapa pasang meja di tengahnya. Tak ada tanda-tanda istri Yusuf adalah seorang yang kaya raya. Yah minimal orang sederhana. Tapi… itulah yang membuat aku terus bertanya ”siapa gadis yang beruntung mendapatkan Yusuf?”

Aku masuk melewati sebuah pagar tanaman bunga sepatu. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kuntum bunga sepatu yang terlambat mekar diantara teman-temannya yang telah merekah indah. Kasihan sekali bunga ini, dia tak bisa memamerkan keindahannya seperti teman-temannya, batinku sedikit tersenyum.

”anggraaaa! Sini”,

”adooh! Apa’an sih Mai?” aku mengelus-elus pergelangan tanganku yang ditarik Maisya.

”kamu tuh! Itu, disana tempat ikhwan! Yang akhwat disini!”, jawabnya melambai.

Tuing! Aku menoleh ke arah kanan depanku, Duar!!! Ikhwan semuaaaaa! Langsung kakiku melarikan diri, membawa serta tubuhku balik ke belakang. ”hehehe”

”huuuu! Kamu nyari kesempatan ya?”

”iihhh…. su’udzon banget sich!” tolakku manyun.

”ya udah! Kita duduk paling depan sini aja! Mungkin kita bisa kebagian pantulan wajah istrinya Yusuf, ya kan?” usul Maisya.

”he’em”, anggukku. Tapi sekali lagi mataku tertuju pada sekuntum bunga sepatu yang berada agak jauh di depanku. Walau begitu, aku masih bisa melihat hijaunya kelopak yang membungkusnya. Ahhh…

Mungkin tak apa mekar terlambat, daripada tidak sama sekali, batinku menghibur. Entah siapa yang ku hibur. Kalaupun si kuntum itu merasa terhibur, alhamdulillah.

Tapi tiba tiba, ceprot! Entah apa, tapi seperti kotoran burung, segede kuku kelingking tiba-tiba jatuh pada hijaunya kelopak yang membungkus calon bunga sepatu itu.

Ihhhhh!! Burung ga sopan! BAB semaunya! Gerutuku sambil mendangak, melihat seekor burung terbang tinggi menjauh. Ku pandangi lagi kelopak yang sedikit kotor, dan mungkin juga agak berbau, itu.

”jorok ya?” tiba-tiba sebuah suara lembut yang mewakili karakter kesabaran seseorang mengagetkanku.

”Yusuf!” mata ku terbelalak tak percaya! Yusuf berdiri tiga kaki di sampingku! Tapi, Maisya ke mana? Ku tolehkan kepalaku ke kanan ke kiri, seperti sedang senam SKJ, tapi tak kutemukan seorang pun di sekitar ku! Tiba-tiba sepi!

”ga usa histeris gitu Ang, Aku gak gigit kok” senyum Yusuf, yang mengingatkanku pemandangan senyumnya di penjara beberapa bulan lalu.

Aku ikut tersenyum kecut.

”kok kecut gitu Ang?” Yusuf mulai duduk di kursi biru yang berjarak dua kursi kosong dari ku.

”antum! Ganteng siiih, tapi tidak setia!

”hehehe” senyum Yusuf lepas tapi pelan. ”Kok bilang gitu Ang?”

”liat aja! Baru juga tadi pagi akad, sekarang pas resepsi mau melarikan diri ya? Tiba tiba juga datang kesini, mau nyulik Anggra ya? Mau ngajak kawin lari ya?”

”haha, astaghfirullah, Anggra Anggra”, Yusuf tertawa lagi sambil menggeleng geleng. ”bukan begitu Anggra. Ana Cuma heran aja, anggra sepertinya begitu tertarik dengan kuntum bunga sepatu itu ya?”, Tunjukknya pada kuntum yang terkotori tadi.

Aku tersenyum pelan, bagaimana dia tau? Apa dia punya ilmu kebatinan? Atau diantara kita punya telepati? Waaaah ….

”Anggra, coba kamu perhatikan lagi kuntum itu”

Aku menoleh, melepaskan pandangan ku yang sedari tadi terpaku pada sang Yusuf.

”eh … oh … eh, emang napa?” aku menyerengitkan mataku, dan tiba tiba bunga itu mekar. Ahhh seperti mimpi, perlahan tapi pasti, merahnya terus mendominasi batang yang menyangganya, hingga hijau dari kuntumnya tak terlihat lagi. Bahkan kotoran burung yang tadi menjatuhinya hilang terbawa kuntum yang layu. Sungguh, bunga itu telah berjaya!

”Anggra, bunga sepatu tadi bagai seseorang yang pernah melakukan kesalahan hingga calon kecantikannya tertutupi oleh kotoran yang menjijikkan.”

Aku menunduk, huft bakal ada yang ceramah nih.

”Bukannya Ana mau ceramah, tapi… coba perhatikan, usaha bunga sepatu itu untuk mekar, bagaikan usaha seseorang yang bertaubat tadi untuk berubah. Dan sekarang lihatlah, dia cantik dan tak kurang satu apa pun. Tak terlihat dia seperti habis kejatuhan kotoran.”

”trus? Emang antum mau bilang apa sih? To the point ajah”

”begitu juga dengan istriku ini Anggra”,

Waduh, Istri Yusuf?? Wanita yang ku gelari ”gadis yang beruntung” itu emang habis kejatuhan kotoran burung juga ya? Batinku bingung.

”heih, bukannya istriku habis kejatuhan kotorang burung loh Nggra? haha”, tawa renyahnya menghiasi telingaku lagi.

Gila! Ni ikhwan dari tadi kok bisa membaca apa yang ada di pikiranku?

”istriku pernah melakukan kesalahan besar Anggra. Bahkan melibatkan banyak hinaan dan cercaan. Tapi akhirnya dia bertaubat dan kembali lagi”

”eitz! Tunggu!” kali ini aku tak membatin lagi, lebih baik ku keluarkan isi otakku. ”Kesalahan besar? Melibatkan banyak hinaan dan cercaan? Gadis itukah yang kau nikahi?”

Yusuf menggeleng. ”Bahkan dia seorang janda, Anggra”

Aku menyerengitkan mata, berpikir, seperti aku tahu siapa sosoknya.

”kamu tau dia Ang, kamu pernah ketemu pas jumpa pers”

”Apa????? Dia… di… dia …”

Yusuf mengangguk dua kali pelan, tapi yakin.

”Anggra, siapapun suamimu kelak, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bisa saja anggra membenci kelemahannya, tapi pasti ada sifat lain yang dimilikinya, yang anggra bisa banggakan.” Yusuf mulai berdiri. ”Walaupun…

Sayap burung dara masih berfungsi

Hingga mereka bisa terbang tinggi

Sirip ikan nirwana pun tak kan lumpuh

Hingga mereka masih bisa menyelam jauh ke dasar laut

Walaupun ketika kau melihatnya…

Kakimu tak akan lemah… dan jiwamu seakan-akan berdiri namun tak jatuh ke jurang tak berdasar, kau pasti akan bangga padanya suatu saat nanti.”

Gubrak! Itu kan puisi yang mengalir saat aku pertama kali melihat Yusuf !

”Yusuf!” panggilku berdiri melihat Yusuf mulai beranjak pergi.

”Anggra, percaya deh, kamu akan mendapat yang terbaik. Maaf kalau aku tak bisa mewujudkan mimpimu untuk saling mencintai dan mengisi hari..” senyumnya lembut dengan setengah tolehan.

Aku menghela napas dan menghempaskannya. ”masalah itu tak mengapa, aku sudah melupakannya. Tapi yang mau ku katakan…”

Yusuf menoleh sepenuhnya padaku. Wajahnya mulai serius penuh tanya.

”Kau tak bisa mengganti syair puisiku seenaknya gitu dung!” bentakku ringan yang membuat Yusuf makin tertawa lebar. ”Heh aku serius!”

”Anggra??? Anggra?” Tiba tiba suara Maisya muncul mendengung-dengung. ”Anggra? Banguuun! Kamu norak banget sih?”

Aku membuka mataku perlahan. ”hmmmh”

”Heh! Bangun! Kamu norak tauk! Di kondangan kok tidur!”

Aku mengucek ngucek mataku yang tak perih. Ku pandangi sekeliling. Beberapa akhwat akhwat di kanan kiri memandangku dengan tertawa kecil.

”Kamu tadi kemana Mai?”,

”Kemana apanya??? Kamu mimpi apa’an sih? Kamu mimpi aku menghilang ke dunia kahyangan ya?”

Waduh! Aku langsung menegakkan pundakku yang sedari tadi bersandar pada sandaran kusir. Tadi ternyata mimpi! Tentang Yusuf, bunga sepatu yang mekar, nasihat nasihat Yusuf,  dan…istri Yusuf…! ku toleh lagi kuntum bunga sepatu tadi. Tapi kini, tak terlihat lagi saking banyaknya orang yang duduk di depanku hingga menghalangi pandanganku.

”pulang yuk Mai?”

”Tapi makanannya kan belum keluar?

”Gak papa Mai,”

”Lah kamu juga belum ketemu istri Yusuf”

”Dia Zulaekha Mai”

”APA???? Tap .. tapi kan .. zulaikha telah …”

Entahlah, aku tak mempedulikan lagi gerutu Maisya. Aku ingin pulang. Kembali pulang walau tanpa cinta Yusuf. Dan aku akan dan harus bahagia. Yah,, bahagia!

–tamat–

Tentang anggra ayyaadon

I am just an ordinary girl with many weaknesses Lihat semua yang ditulis oleh anggra ayyaadon

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.