Pelumpuh Sayap Dara (part 1)

Sore ini aku benar-benar bosan. Sebenernya gak biasa aku menonton tivi, karena gak ada acara tivi yang kusukai 100%. Kalopun suka sebuah acara ato film kartun, itu hanya setengah hati. Sehingga kali ini aku hanya menonton iklan. Jika sebuah stasiun tivi memulai programnya, maka aku mengganti stasiun lain yang memuat iklan-iklan. Eiiitttzz…. bentar-bentar, entah kenapa, tiba-tiba mataku tertarik pada sebuah acara infotemen yang terfavorit sehingga tujuh tahun berturut-turut meraih Panasonic award.

Dengan gaya bahasa yang sangat lebay, yang malah membuat penonton khususnya aku, tambah mubeng, sang presenter yang sedari tadi tak dituntut tersenyum membawa kabar burung: “Zulaikha, seorang istri bangsawan dari Mesir yang begitu terkenal kecantikan dan kemolekannya, di tangkap basah mengajak pembantunya sekaligus anak angkatnya, Yusuf, untuk berzina”.

Gubraaakkss!!!! “What???” aku mengelus leher yang sebenarnya dari tadi kehausan. “Astagfirulloh!!!”, dadaku benar-benar sesak. Siapa yang tak kenal Zulaikha? Seorang istri bangsawan terkenal, Al-Aziz, yang beberapa tahun terakhir mengangkat seorang anak angkat yang sebelumnya adalah pembantunya,… ternyata..!!!Apa kurang dari Al-Aziz, sudah kaya, dermawan pula. Dan Zulaikha,, ahhh kalo saja ia ikut kontes miss dunia, mesti kandidat lain pada mengundurkan diri deh!!! (lebay ahh!!)

”kukuruyuuuuk!!!!!” (eits, jangan salah! Ntu bukan suara ayam jantan… hehee… itu suara dering HaPe yang meraung-raung tanda ada yang nelpon gitu!). ”ada apa Maisya nelpon?”, batinku, teringat temanku yang katanya orang-orang sih wajahnya agak nyerempet sama aku. Padahal waktu mama hamil gak pernah nabrak mamanya Maisya deh.

”assalamu’alaykum”

”wa’alaykumus salam…, anggra! Uda denger berita tentang Zulaikha di tivi lum??”

”yes, and I’m so surpise !”

”ntu masalahnya!! Aku juga tak percaya sebenernya. . . tapi tau gak sih? Si Zulaikha langsung nyebarin undangan jumpa pers ke teman-temannya dan para wartawan ntar malem jam delapan dan acaranya khusus akhwat!,”

”waaah, mau dhung datang!”,

”emang kamu diundang Nggra??”.

”ndak sih. Emang kamu di undang?”,

”Ya eya laah!! Secara aku gitu loh??? Papi aku khan partner kerja ma papinya Zulaikha?”

(huh dasar ntu anak! Ya jelas papinya partner papi si Zulaikha? Lha wong papinya khan sopir pribadinya papi Zulaikha? Tapi enak juga ya,, kalo diundang khan udah dapat snack, tempat duduk khusus. Gak karuan deh kalo datang ke jumpa persnya istri bangsawan ntu tak diundang. Boro-boro mau duduk, paling baru sampe di depan pagar paling langsung deh diusir satpam)

”Tapi Nggra, ntu masalahnya,… Aku tak bisa datang deh kaya’nya. Secara gitu loh, aku khan panitia penting seminar kepenulisan minggu depan gitu.”

”owh…hhh”, (hhh… ni anak nelpon cuma mo pamer ajah! Dasar!)

”dan … kamu mau nggantiin aku khan?”,

”APA??!!” Aku terkejut bukan main! ”Aku gantiin kamu datang ke jumpa persnya Zulaikha?”,

”iya.. sekali-kali aku mau bersedekah gitu. Kalo kamu seneng khan, brarti aku dapet pahala juga”,

(hmmm asyik sih… tapi…)… ”males ah.. ngapain juga datang ke acara gituan? Paling yang ada orang-orang borjuis semua!”

”e’e’e! Kamu bakal ketemu ma Yusuf ntu loh? Jangan salah sangka. Walopun dia cuma pembantunya, tapi katanya tuh ya… rupawan nian tuh ikhwan!”.

(ah… masa’ sih?? Tapi mungkin bener juga sih. Zulaikha ajah klepek-klepek!) ”hmm… boleh deh…”,

”nuah… gitu dhung Nggra! Ya udah ya… ni bonus uda mo habis. Hehehe. Wassalamu’alaykum

”wa’alaykumus salam”

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

 

Aku memang wajahku di cermin. ”Ya Alloh, baguskanlah akhlakku seperti Engkau membaguskan rupaku”. Hhhhhhh… aku mendesah panjang. Kurapikan kembali jilbab biru donkerku yang sedikit berbordir di ujungnya. Lalu aku menghadap ke gedung mewah di sampingku. Sekali lagi aku memandang cermin spion. ”bener khan, liat aja yang datang! Orang-orang borjuis senua. Paling yang berpakaian sederhana cuma para pemburu beirta yang selalu lengkap dengan kamera dan mix mereka. Tapi aku tetap pede aja lah! Kalo bukan karena ingin melihat Yusuf, sang pembantu Zulaikha, yang banyak dibicarakan orang mampu menaklukkan majikan wanitanya sendiri, mungkin sekarang aku lagi sibuk nyegur ke tumpukan-tumpukan tugas kuliah.

Kulangkahkan kakiku penuh keyakinan. Kuambil tempat duduk di barisan ke lima. Ah… minder juga. Suara berisik terdengar dimana-mana. Masih saja penasaran dengan tampang Yusuf.

Tiba-tiba semua terdiam. Aku memandang ke arah balkon berwarna keemasan di hiasi gorden-gorden cantik berwarna coklat kekuningan. Seorang wanita yang cantik serta keturunan bangsawan keluar. Entah kenapa kenapa semuanya bergetar dan seolah-olah semuanya melayang-layang karena gravitasinya musnah. Rasa ingin menghilang saja akupa melihat kecantikan Zulaikha. Malu! Hhh…untungnya gak da ikhwan nih. Ah, aku sendiri tak mampu menggambarkan kecantikannya lewat kata-kata. Sungguh. . .

”sssttt… tuh diperhatikan dhung!”, suara bisikan diiringi sebuah senggolan dipundakku dari wanita yang duduk disebelahku.

”ups!”, aku tersenyum. ”afwan”. (duh, kok dia tau aku gak memperhatikan? apa dia bisa medengar gemuruh di hatiku? Kepada siapa lagi aku bertanya? Ah….)

”Para sahabat dan wartawati semua, saya disini hanya ingin meluruskan kesalahpahaman tentang semua berita yang terdengar di tivi, radio, internet, hape, bahkan sampai ke bungkus-bungkus makanan yang berdedar baru-baru ini. Bahwa semua yang anda dengar tidak sepenuhnya benar. Bla…bla…bla…”

Hhoooaaammhh!! Dasar orang kaya! Bicara dikit banyak kerja napa sih? Semuanya sama ajah suka teori! Duh, emang nyambung ya? Entahlah. Aku benar-benar bosan. Snack yang sedari tadi tersedia sudah habis kulahap, tinggallah sebuah apel dan pisau untuk mengupasnya. Ah lagi-lagi dasar orang kaya! Kulit apel khan bagus untuk kesehatan? Langsung aja kumakan. Lalu kulirik hapeku…yang telah menunjukkan pukul 21.00. ”Pulang ah…”

Deg! Tiba-tiba langkahku terhenti ketika tak sengaja wajahku menatap balkon. Seorang pemuda. . . yang begitu… ahhh

Sayap burung dara seakan tak berfungsi

Hingga mereka jatuh tak terbang lagi

Sirip ikan nirwana pun seolah-olah lumpuh

Hingga mereka jauh tenggelam ke dasar laut

Kakiku begitu lemah… jiwaku seakan-akan jatuh ke jurang tak berdasar. 

”Tampan bukan?”, sebuah suara yang lembut membisiki telingaku. ”tapi sayang, kau tidak sedang membawa pisau, sehingga tangan mu tak terluka seperti mereka”.

Kulihat para wanita yang semuanya memegang pisau untuk mengupas apel. Para wartawati pun banyak yang kehilangan kameranya karena rusak berjatuhan. Dan kupandang seseorang disamping yang tadi berbisik kepadaku.

”Zulaikha?”,

”ya… ini aku. Kurasa kau tamu tak diundang disini. Karena aku tak mengenalmu…hai…”,

”anggra! ”, aku mengulurkan tanganku. ”aku menggantikan Maisya di sini. Ia tak bisa datang karena ada rapat”,

”ouh… begitu. Jadi bagaimana menurutmu?”,

”maksudnya?  tentang hal apa?”, duh, mulai lola tersihir ketampanan Yusuf.

”ya… tentang gossip aku mengajak Yusuf berzina… aku rasa itu terlalu berlebihan, karena siapa yang bisa menahan dari pria setampan dia?”,

Aku terdiam. Bukannya membenarkan kata-kata Zulaikha, karena sikap Zulaikha yang gak mau Ghadul Bashar itu tetap salah. Tapi aku tak mau membantah langsung didepannya. Jangan-jangan ntar aku dikeroyok ma para pengawalnya lagi. Kupalingkan wajahku menatap Yusuf, kuperhatikan dengan seksama, walaupun wajahnya tenang tersirat kesedihan dan kemurungan, hatinya seakan berkata aku tak ingin berada di sini. Ya Alloh, aku benar-benar tidak tega melihatnya. Seolah-olah dia seperti objek aneh yang dituntut untuk menghibur dan ditatap ratusan mata.

Tak terasa mataku mulai membuat sebuah sungai kecil, yang kali ini kuberi nama ”bengawan Yusuf”. Aku pun pergi dari tempat itu. Dimana apel-apel terbuang karena terus-terus dikupas para tamu pesona dengan … sekali lagi, dengan ketampanan Yusuf. Ahh,…

Aku terus berlari seolah menghindari kejaran pangeran yang tergila-gila padaku. Namun, semata-mata aku hanya ingin orang-orang tidak mengetahui ”bengawan Yusuf”-ku.

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

”dasar wanita bejat! Setelah berniat jahat pada Yusuf sekarang dia memenjarakannya??!”, celoteh Maisya sambil mengunyah kue coklat dihadapannya.

            Aku tersentak! Apa?? Yusuf di penjara? Tega sekali Al-Aziz dan Zulaikha melakukan itu. Ini tidak adil!! Sungguh tidak adil! ”Hin, kita harus membebaskan Yusuf! Kasihan kan dia?? Hin, dipenjara tuh bukan tempat yang coock buat pemuda seperti Yusuf.”, paksaku sembil mengguncang-guncang tubuh mungil Maisya, hingga sepotong kue coklat yang hampir tamat riwayatnya di mulut Maisya, jatuh berhamburan.

            ”ich… anggra apa-apa’an sich?? Emg kamu tau caranya ngebebasin Yusuf dari penjara?”,

            Aku terdiam, menggeleng.

            ”nah, belum juga tau caranya sudah bingung. Ya sudah, gimana kalo tar sore aku ajak jenguk dia dipenjara. Ayahku kenal sama sipir disana, jadi kita bisa lobi-lobi biar dibolehkan jenguk, sekalian kita susun rencana untuk mengeluarkan dia dari penjara, gimana?”,

            ”he’em he’em”, aku mengangguk kencang. ”makasih ya Maisya, kamu baik banget.”,

            ”by the way, kamu kok segitu perhatiannya sich sama Yusuf, jangan-jangan…”,

            ”jangan-jangan apa? Ah, kamu tuh ada-ada saja. Aku kan cuma ingin keadilan ditegakkan?? Kasihan Yusuf kan? Sudah di fitnah, dipenjara pula?”,

            ”deuh deuh, iyya iya anggra ku sayang. Ya sudah, tenang dikit napa?”,

Aku tersenyum malu. Entah apa yang kurasa tidak seperti biasa. Jatuh cinta? Mana mungkiin baru ketemu Yusuf saja sekali. Apa cuma karena dia ganteng?? Tapi siapa bilang? Buktinya, akhlaknya benar-benar top. Bisa-bisanya dia lolos dari rayuan wanita cantik, yang jika mereka melakukannya pun tidak akan ketahuan. Subhanalloh, sudah tampan, berakhlak ,mulia pula. Akhwat mana yang gak mau mendapatkan ikhwan seperti itu? Ahh…

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

Aku masih gugup, sedang Maisya dari tadi mengeluh kebelet buang air kecil. Duh, pak sipirnya kok gak perhatian banget sich? Masih saja lobi-lobi dengan bapaknya Maisya. Mana disini banyak wartawan, kalo Maisya sampe ngompol, kan gawwat? Ntar yang masuk berita di koran bukannya Yusuf yang dipenjara, malah berita Maisya, gadis 20 tahun masih ngompol?? Kan gak lucu tuh?

”nggra… anggraaaaaaaaaaaaaa!”,

”astagfirullohal ’adzim”, aku mengelus dada . ”ngapain sich teriak-teriak di kuping? Kalo mo teriak di kaki aja nih, biar gak bikin budeg”, gerutuku.

”abisnya kamu tuh… dari tadi dipanggil, ngalamuuuun ajja. Ayoh masuk. Waktu kita Cuma 10 menit buat nemuin si Yusuf”, Maisya kemudian menarik tanganku melintasi lorong-lorong yang sempit dan tak begitu terang. Kami terus berjalan menuju ke ujung lorong. Dimana ada sebuah pintu besi yang berkarat. Semakin mendekat bau dan kelembapannya semakin menyengat. Ya Alloh, disinikah Yusuf di kekang?

”nah, kamu tunggu disini, aku mau pipis dulu”,

”loh? Kok pipis? Bukannya kita mau jenguk Yusuf?

”yee,… ini mah kamar mandi atuh. Tuh baca aja tulisan di atasnya. Aku tak berani ke kamar mandi sendirian. Jadi aku minta ditemenin.”,

”nah, trus sel Yusuf di mana?”.

”di bangsal Merkurius, tempatnya di lantai empat, hehehe. Ya uddah, pips dulu. Tunggu ya?”,

Gubrakss!! Aku benar-benar terkecoh. Dasaaaaaaaaar tuh anak. Terburu-buru kira’in .. ternyata… haaah.. nasib

ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ                    ÿ

”wa’alaikumus salam”, jawaban dari salamku itu terasa berat namun tetap lembut. ”maaf anti-anti ini siapa?” Yusuf terlihat tabah namun gugup dan enggan memandang. Namun dari sayunya, ia seolah ingin berkata aku tak ingin berada di sini. Yaeyalaaah ??? mana ada yang mau tinggal dipenjara.

”Ana Maisya, anaknya pak Raju, sopir pribadinya Al-Aziz”, jawab Maisya dengan bangga. Aku hanya bisa memancungkan mulutku.

”ouh… ukhty Maisya, ada masalah apakah sehingga mengundang anti untuk menjenguk ana? Ana ini bukan siapa-siapa. Tak pantas untuk di jenguk. Ana hanya seorang hamba yang hina dan penuh dosa.”,

”afwan akhi bukan begitu kami bermaksud”, aku segera melantunkan suaraku sebelum Maisya mengeluarkan celotehnya. ”ana anggra, temannya Maisya. Ana merasa hal ini tidak adil. Apa yang terjadi bukan kesalahan antum. Jadi antum tidak pantas dihukum seperti ini. Kami ingin membantu antum untuk mengeluarkan antum dari penjara”,

            Yusuf tersenyum dibalik kusut batinnya. Akupa pemandangan yang tak kan terlupakan. Hampir saja pesona itu melumpuhkan tulang rusuk dan urat nadiku. Kalau saja aku tak ingat Maisya mencurigaiku mempunyai rasa khusus terhadap Yusuf, mungkin aku akan jujur pada Yusuf tentang anugerah ketampanannya.

”ana tidak menyangka anti begitu perhatian. Jazaakillah khoir, tapi ana lebih suka disini”.

”apa? Lebih suka disini maksud antum? Tapi aku melihat antum tidak merasa bahagia?”,

”ana lebih baik berada di penjara dari pada di istana namun ana harus berhadapan dengan maksiat. Ana takut tidak akan mampu menahan gejolak bila Zulaikha mengajak ana bermaksiat lagi. Sungguh Alloh telah menyelamatkan ana dari dosa besar.”,

Aku terdiam, Maisya menggaruk-garuk kepalanya yang entah gatal atau tidak. Akupa pasrahnya Yusuf menyerahkan semuanya kepada Sang Khalik setelah usahanya mendulang kesuksesan menghindari rayuan Zulaikha.

”tidak ada yang menolak tentang kecantikan Zulaikha. Namun, dia tak halal bagi ana”,

Jederrr!! Hatiku bagai di jepit pintu besi. Mendengar Yusuf memuji kecantikan Zulaikha, akupa cemburu langsung menyengat jantungku hingga bengkak dan hampir meledak, kalau saja bentakan sipir penjara tidak membuyarkanku.

”Waktu kalian menjenguk sudah habis, nona nona!”

”ukhty ukhty… ana sungguh berterima kasih atas kesediaan antum semua menjenguk ana. Namun, ana minta didoakan saja agar tetap tabah menjalani cobaan ini. Sekali lagi terima kasih. Assalamu’alaykum”

”wa’alaykumus salam warrohmatulloh” jawabku ku lirih. Sedang Sipir membawa pergi Yusuf, seperti seorang pengawal menuntun sang pangeran menjahui seorang putri yang dibakar rasa cemburu.

”ayuk nggra, kita pulang. Lupakan saja niatmu membebaskan Yusuf, ia ternyata lebih bahagia berada di sini.”,

Aku menganggu pelan. Namun langkahku kini tertunduk. Aku takut ”bengawan Yusuf 2” akan mengalir. Mungkin kali ini aku benar-benar dilanda penyakit kronis yang obatnya susah dicari, jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta pada Yusuf. Ahh… jatuh cinta …

(bersambung… )

Tentang anggra ayyaadon

I am just an ordinary girl with many weaknesses Lihat semua yang ditulis oleh anggra ayyaadon

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.