Suatu hari saya bersama seorang sahabat dekat saya. Saat itu saya membawa bekal makanan yang rencana akan kami makan bersama-sama. Di tengah obrolan-obrolan ringan, saya memberikan dia sepotong lauk yang dia sukai.
“Ini anggra bawakan untuk dirimu”
Dia hanya tersenyum. Lalu dia bertanya kepada saya “tadi sudah makan belum?”
Saya hanya menggeleng sambil tersenyum. “Makanya ayo kita makan sekarang”
“Karena lauk ini kan sudah milik saya, maka sekarang saya akan memberikan kepadamu. Maka makanlah” seraya dia memberikan potongan lauk tersebut.

Saya agak kesal juga, masa’ di kasih kok di kembalikan?
Sahabat saya itu kemudian berkata “pernah mendengar seorang sahabat yang memberikan Kepala Kambing kepada sahabatnya dan akhirnya kembali kepada dirinya?.”
Saya menggeleng “bagaimana ceritanya? ”
Lalu dia berkata “ Dari Ibnu Umar radhliyallahu ‘anhu menceritakan: “Seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu. memberikan kepala kambing kepada sahabat lainnya. Sahabat yang menerima pemberian itu berfikir, “Tampaknya, kawanku si fulan lebih memerlukannya daripada saya.” Maka ia memberikan kepala kambing tersebut kepada tetangganya. Ternyata tetangganya itu juga berpikiran sama, bahwa tetangganya yang sebelah lebih memerlukan sehingga kepala kambing itu diberikan ke rumah sebelahnya. Demikianlah pikiran setiap sahabat yang mendapat kepala kambing itu sehingga kepala kambing itu telah berkeliling ke tujuh rumah sampai akhirnya kembali ke rumah sahabat yang pertama. “
“Itulah yang dinamakan itsar. Itsar adalah mendahulukan orang lain daripada diri sendiri. Itsar merupakan puncak dari ukhuwah”, tambahnya.
Saya benar-benar tersenyum. Bagaimana kalau saya juga memutuskan untuk memberikan lauk yang di berikan kepada dia lagi ?? Mungkin ceritanya tidak akan selesai. Hee . akhirnya kami makan berdua lauk itu.
Pikiran saya melayang…di tengah-tengah zaman yang begitu menonjolkan keegoisan, ternyata sahabat dekat saya itu masih begitu mementingkan kepentingan orang lain dari pada dirinya. Saya begitu teringat zaman sekarang dimana yang ada “saya”, “kamu”, bukan “kita” atau “lo lo”, “gue gue”. Contoh umum seperti para koruptor. Mereka menilap uang rakyat tanpa berfikir nasib rakyat yang kekurangan dan tidak mampu. Yang penting memperkaya diri sendiri bodo amat nasib orang miskin.
Dan dari sisi saya, hari itu sebuah ilmu mampir ke memori saya. Itsar. Membuat saya penasaran dengan hal itu, saya mencari-cari tentang apakah itu itsar?
Makna Itsar
Secara bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri. Dari segi fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.
Dari segi istilah, itsar adalah salah satu manfaat diniyah (manfaat keagamaan) yang terwujud bila terjalin ukhuwah di antara orang-orang yang se-aqidah. Ia juga dikatakan wujud maksimal ukhuwah Islamiyah yang dimiliki seseorang. Dalam rangka menggapai mardhatillah semata, seorang muslim bersedia berkorban mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri.
Sabda Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallamyang keshahihahnnya disepakati oleh pakar hadits:
“Salah seorang dari kalian tidak beriman, hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya”
Atau firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Al Hasyr: 9
Itsar generasi salafus shalih
Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Taala dalam QS 68:4 dan QS 9:128 yang sudah dicantumkan di bagian terdahulu tulisan ini menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.
Bukti kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap sinyal-sinyal Abu Hurairah butuh bantuan.
Beliau tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu Bakar dan Umar ra sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Beliau meneteskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”.
Beliau hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayahhandaku punggungnya penuh dengan bilur-bilur tikar”. Tetapi beliau tidak mau tikarnya itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal karena takut tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa bangun shalat malam.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai umatnya, bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah, “Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)
Keteladanan Rasulullah saw. dalam hal tersebut ternyata membias pula pada sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab binti Jahsy.
Suatu saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya.Termasuk sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar, “Bagitu banyak yang kau infaqkan Umar, adakah yang tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada Abu Bakar As shidiq ra, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan decak kagum.
“Untuk keluargaku kutinggalkan Allah dan Rasulnya” Artinya keseluruhannya (100%) diinfaqannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya”.
Begitu pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya dihabiskan untuk membiayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”, ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.
Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.
Ummul mukminin Aisyah ra yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tak kau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.
Sebenarnya masih banyak kisah-kisah teladan dari para salafush shalih yang menunjukkan itsar mereka, baik dalam keadaan perang maupun keadaan lapar. Dan sudah sepantasnya kita sebagai seorang muslim, meneladani kisah-kisah teladan dari pendahulu kita. Apakah kita takut kita akan miskin jika membantu orang lain? bukankah Allah telah berfirman:
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya”. [Muzammil: 9]
Dan firman Allah ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَلِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”[Fathir: 29-30]
Betapa akan bahagianya kehidupan dalam bermasyarakat jika itsar menghiasi akhlak-akhlak mereka.
wallahu ta’ala a’lam












